Ponpes Bani Yusa
Kp. Bojong mesjid Desa.Bojong menteng Kec.Tunjung Teja Kab.Serang Prov. Banten
Selasa, 09 September 2025
Berantas Buta Aksara AlQuran bersama Bani Yusa.
Rabu, 03 September 2025
Cahaya dari Mekkah
Di sebuah kota bernama Mekkah, pada tahun yang disebut Tahun Gajah, lahirlah seorang bayi istimewa. Namanya Muhammad bin Abdullah. Ayahnya telah tiada, dan ibunya, Aminah, merawatnya dengan penuh kasih. Namun tak lama kemudian, Aminah pun wafat, meninggalkan Muhammad kecil dalam asuhan kakeknya, Abdul Muthalib, lalu pamannya, Abu Thalib.
Sejak kecil, Muhammad tumbuh berbeda. Ia dikenal jujur, tidak pernah berbohong, dan selalu menolong sesama. Karena itulah masyarakat memberinya gelar Al-Amin, si terpercaya.
Saat remaja, ia bekerja menggembala kambing, lalu berdagang hingga ke negeri Syam. Kejujurannya membuat semua orang percaya. Khadijah, seorang saudagar kaya, terpikat oleh akhlak mulianya. Mereka pun menikah, hidup penuh cinta dan saling menghormati.
Pada usia 40 tahun, Muhammad sering merenung di Gua Hira. Pada suatu malam sunyi, cahaya malaikat Jibril datang, menyampaikan firman Allah: “Iqra’, bacalah…” Tubuhnya bergetar, jiwanya terguncang. Sejak itulah, Muhammad diangkat menjadi Rasul, pembawa cahaya bagi seluruh manusia.
Namun dakwahnya di Mekkah penuh tantangan. Kaum Quraisy marah, mereka menolak ajaran tauhid. Muhammad dan para pengikutnya dihina, disiksa, bahkan diboikot. Tapi ia tidak pernah menyerah. Ia terus mengajarkan kebaikan, sabar dalam menghadapi semua cobaan.
Akhirnya, Muhammad dan para sahabat hijrah ke Madinah. Di sana, Islam tumbuh dengan damai. Nabi membangun persaudaraan, memimpin dengan adil, dan mengajarkan akhlak mulia. Perang demi perang terjadi, tetapi Nabi selalu mengajarkan bahwa berperang bukan untuk balas dendam, melainkan untuk menegakkan kebenaran.
Puncaknya, Nabi kembali ke Mekkah dengan pasukan besar. Namun tak ada pedang terhunus, tak ada darah tertumpah. Nabi memaafkan musuh-musuhnya. Dengan rendah hati, beliau masuk ke Ka’bah, menghancurkan berhala, dan mengumumkan: “Tidak ada paksaan dalam agama. Semua manusia sama di hadapan Allah.”
Tahun-tahun berlalu. Islam tersebar ke seluruh jazirah Arab. Pada haji terakhirnya, Nabi menyampaikan pesan agung: “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, Al-Qur’an dan sunnahku. Jika kalian berpegang pada keduanya, kalian tidak akan tersesat.”
Tak lama kemudian, Nabi jatuh sakit. Di rumah istrinya, Aisyah, beliau terbaring lemah. Pada hari Senin, 12 Rabiul Awal, usia 63 tahun, Rasulullah menghembuskan napas terakhir. Seluruh Madinah menangis. Dunia kehilangan cahaya yang membimbingnya.
Namun ajaran dan teladan Nabi Muhammad tidak pernah padam. Ia tetap hidup dalam hati setiap orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Selasa, 08 April 2025
10 Mabadi Ilmu Tajwid
Berikut adalah 10 Mabadi' Ilmu Tajwid (المبادئ العشرة لعلم التجويد):
1. Al-Hadd (الحد): Definisi atau pengertian Ilmu Tajwid.
Secara bahasa: membaguskan, memperindah, atau membuat sesuatu menjadi baik.
Secara istilah: Ilmu yang membahas tentang tata cara membaca Al-Qur'an dengan benar dan baik, sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dengan memberikan hak-hak huruf dan mustahaknya.
2. Al-Maudhu' (الموضوع): Objek atau ruang lingkup pembahasan Ilmu Tajwid.
Lafadz-lafadz Al-Qur'an Al-Karim dari segi pengucapan huruf, sifat-sifatnya, makhrajnya (tempat keluarnya), hukum-hukum mad (panjang), ghunnah (dengung), waqaf (berhenti), ibtida' (memulai), dan lain sebagainya.
3. Ats-Tsamarah (الثمرة): Buah atau manfaat mempelajari Ilmu Tajwid.
Memelihara lisan dari kesalahan (lahn) dalam membaca Al-Qur'an.
Membaca Al-Qur'an sesuai dengan yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Mendapatkan pahala yang berlipat ganda karena membaca Al-Qur'an dengan tartil (perlahan dan benar).
4. Al-Fadhl (الفضل): Keutamaan atau keunggulan Ilmu Tajwid.
Ilmu Tajwid adalah ilmu yang mulia karena berkaitan langsung dengan Kitabullah (Al-Qur'an).
Membaca Al-Qur'an dengan tajwid adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surat Al-Muzzammil ayat 4: "... ورتل القرآن ترتيلا" (Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil (sebenar-benarnya)).
5. An-Nisbah (النسبة): Hubungan Ilmu Tajwid dengan ilmu-ilmu lain.
Ilmu Tajwid memiliki keterkaitan erat dengan Ilmu Qira'at (ilmu tentang berbagai riwayat bacaan Al-Qur'an), Ilmu Lughah (linguistik Arab, terutama fonetik), dan Ilmu Ushul Fiqh (dalam beberapa pembahasan terkait hukum membaca Al-Qur'an).
6. Al-Wadhi' (الواضع): Peletak dasar atau perintis Ilmu Tajwid.
Peletak dasar utama adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang mengajarkan cara membaca Al-Qur'an kepada para sahabatnya. Kemudian, para ulama ahli qira'at dan tajwid yang membukukan dan merumuskan kaidah-kaidah ilmu ini.
7. Al-Ism (الاسم): Nama ilmu ini.
Nama ilmu ini adalah Ilmu at-Tajwid (علم التجويد).
8. Al-Istimdad (الاستمداد): Sumber pengambilan atau rujukan Ilmu Tajwid.
Sumber utama Ilmu Tajwid adalah riwayat-riwayat mutawatir (periwayatan yang sangat banyak dan tidak mungkin sepakat atas kedustaan) dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang cara beliau membaca Al-Qur'an, serta praktik bacaan para sahabat dan tabi'in yang mengikuti beliau.
9. Hukmu as-Syari' (حكم الشارع): Hukum mempelajari dan mengamalkan Ilmu Tajwid menurut syariat.
Mengamalkan tajwid saat membaca Al-Qur'an adalah fardhu 'ain (wajib bagi setiap individu). Sedangkan mempelajari kaidah-kaidah Ilmu Tajwid secara mendalam hukumnya adalah fardhu kifayah (wajib kolektif).
10. Al-Masail (المسائل): Masalah-masalah atau topik-topik yang dibahas dalam Ilmu Tajwid.
Meliputi pembahasan tentang makharijul huruf (tempat keluarnya huruf), sifatul huruf (sifat-sifat huruf), hukum nun mati dan tanwin, hukum mim mati, hukum mad dan qashr (panjang dan pendek), hukum idgham (memasukkan), ikhfa' (menyembunyikan), iqlab (mengganti), waqaf dan ibtida' (berhenti dan memulai bacaan), dan lain-lain.
Memahami 10 Mabadi' Ilmu Tajwid ini memberikan fondasi yang kuat untuk mendalami ilmu yang sangat penting dalam membaca dan berinteraksi dengan Al-Qur'an.
10 Mabadi Ilmu Fikih
Berikut adalah 10 Mabadi' Ilmu Fikih (المبادئ العشرة لعلم الفقه):
1. Al-Hadd (الحد): Definisi atau pengertian Ilmu Fikih.
Secara bahasa: pemahaman yang mendalam.
Secara istilah: Ilmu tentang hukum-hukum syara' yang bersifat amaliyah (praktis) yang diambil dari dalil-dalilnya yang tafshili (terperinci).
2. Al-Maudhu' (الموضوع): Objek atau ruang lingkup pembahasan Ilmu Fikih.
Perbuatan-perbuatan mukallaf (orang yang telah dikenai kewajiban syariat) dari segi hukum syara' yang berkaitan dengannya.
3. Ats-Tsamarah (الثمرة): Buah atau manfaat mempelajari Ilmu Fikih.
Mengetahui hukum-hukum syariat terkait perbuatan sehari-hari.
Melaksanakan ibadah dan muamalah sesuai dengan tuntunan syariat yang benar.
Mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menjalankan perintah-Nya.
4. Al-Fadhl (الفضل): Keutamaan atau keunggulan Ilmu Fikih.
Ilmu Fikih adalah panduan hidup seorang Muslim dalam menjalankan agamanya.
Merupakan bagian penting dari ilmu syariat Islam.
5. An-Nisbah (النسبة): Hubungan Ilmu Fikih dengan ilmu-ilmu lain.
Ilmu Fikih sangat erat kaitannya dengan Ilmu Ushul Fikih (kaidah-kaidah penetapan hukum), Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, dan Ilmu Akhlak.
6. Al-Wadhi' (الواضع): Peletak dasar atau perintis Ilmu Fikih.
Peletak dasar utama adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui Al-Qur'an dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melalui Sunnahnya. Kemudian, para sahabat, tabi'in, dan ulama mujtahid yang mengembangkan dan merumuskan kaidah-kaidah fikih.
7. Al-Ism (الاسم): Nama ilmu ini.
Nama ilmu ini adalah Ilmu al-Fiqh (علم الفقه).
8. Al-Istimdad (الاستمداد): Sumber pengambilan atau rujukan Ilmu Fikih.
Sumber utama Ilmu Fikih adalah Al-Qur'an dan Sunnah. Kemudian, Ijma' (konsensus ulama), Qiyas (analogi), dan dalil-dalil syar'i lainnya yang disepakati oleh para ulama Ushul Fikih.
9. Hukmu as-Syari' (حكم الشارع): Hukum mempelajari Ilmu Fikih menurut syariat.
Hukumnya adalah fardhu kifayah (wajib kolektif). Artinya, jika sebagian umat Islam telah mendalaminya, maka gugurlah kewajiban bagi yang lain. Namun, mempelajari hukum-hukum fikih yang berkaitan dengan ibadah dan muamalah yang wajib bagi setiap individu hukumnya adalah fardhu 'ain (wajib individual).
10. Al-Masail (المسائل): Masalah-masalah atau topik-topik yang dibahas dalam Ilmu Fikih.
Meliputi berbagai aspek kehidupan seorang Muslim, seperti ibadah (thaharah, shalat, puasa, zakat, haji), muamalah (jual beli, sewa menyewa, hutang piutang), munakahat (pernikahan dan perceraian), jinayat (hukum pidana Islam), dan lain-lain.
10 Mabadi Ilmu Nahwu
Mabadi' Asyarah (المبادئ العشرة) atau sepuluh prinsip dasar adalah konsep yang dikenal dalam tradisi keilmuan Islam, termasuk dalam Ilmu Nahwu (tata bahasa Arab). Prinsip-prinsip ini berfungsi sebagai kerangka dasar untuk memahami esensi suatu disiplin ilmu sebelum mendalaminya.
Berikut adalah 10 Mabadi' Ilmu Nahwu:
1. Al-Hadd (الحد): Definisi atau pengertian Ilmu Nahwu.
Secara bahasa: bermakna arah, contoh, ukuran, bagian, maksud.
Secara istilah: Ilmu tentang kaidah-kaidah yang dengannya diketahui keadaan akhir kata dalam kalimat, baik dari segi i'rab maupun bina'.
2. Al-Maudhu' (الموضوع): Objek atau ruang lingkup pembahasan Ilmu Nahwu.
Yaitu kata-kata bahasa Arab dari segi perubahan akhir (i'rab) dan ketetapannya (bina') dalam susunan kalimat.
3. Ats-Tsamarah (الثمرة): Buah atau manfaat mempelajari Ilmu Nahwu.
Menjaga lisan dari kesalahan dalam mengucapkan bahasa Arab (lahn).
Membantu memahami Al-Qur'an dan Hadis dengan benar.
Memudahkan dalam memahami kitab-kitab berbahasa Arab.
4. Al-Fadhl (الفضل): Keutamaan atau keunggulan Ilmu Nahwu.
Ilmu Nahwu adalah alat untuk memahami syariat Islam yang berbahasa Arab.
Memahami bahasa Arab adalah kunci untuk memahami agama.
5. An-Nisbah (النسبة): Hubungan Ilmu Nahwu dengan ilmu-ilmu lain.
Ilmu Nahwu memiliki hubungan erat dengan ilmu Sharaf (morfologi Arab), Ilmu Balaghah (retorika Arab), Ilmu Lughah (linguistik Arab), dan ilmu-ilmu syar'i lainnya.
6. Al-Wadhi' (الواضع): Peletak dasar atau perintis Ilmu Nahwu.
Ulama yang diakui sebagai peletak dasar Ilmu Nahwu adalah Abu Aswad ad-Du'ali atas perintah Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.
7. Al-Ism (الاسم): Nama ilmu ini.
Nama ilmu ini adalah Ilmu an-Nahwu (علم النحو).
8. Al-Istimdad (الاستمداد): Sumber pengambilan atau rujukan Ilmu Nahwu.
Sumber utama Ilmu Nahwu adalah Al-Qur'an, Hadis Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dan perkataan (syair dan prosa) orang Arab yang fasih.
9. Hukmu as-Syari' (حكم الشارع): Hukum mempelajari Ilmu Nahwu menurut syariat.
Hukumnya adalah fardhu kifayah (wajib kolektif). Artinya, jika sebagian umat Islam telah mempelajarinya, maka gugurlah kewajiban bagi yang lain. Namun, mempelajarinya bisa menjadi fardhu 'ain (wajib individual) bagi seseorang yang ingin memahami Al-Qur'an dan Sunnah secara mendalam.
10. Al-Masail (المسائل): Masalah-masalah atau topik-topik yang dibahas dalam Ilmu Nahwu.
Meliputi pembahasan tentang i'rab (perubahan akhir kata), bina' (ketetapan bentuk kata), susunan kalimat (jumlah ismiyah dan jumlah fi'liyah), dan kaidah-kaidah lainnya yang mengatur struktur bahasa Arab.
Kamis, 10 Oktober 2024
Berantas Buta Aksara AlQuran bersama Bani Yusa.
Donasi Anda akan disalurkan dalam bentuk buku Islah dan paket belajar mengaji di Pondok Pesantren Bani Yusa Scan Qris Di Bawah untuk dona...
-
Donasi Anda akan disalurkan dalam bentuk buku Islah dan paket belajar mengaji di Pondok Pesantren Bani Yusa Scan Qris Di Bawah untuk dona...
-
Berikut adalah 10 Mabadi' Ilmu Tajwid (المبادئ العشرة لعلم التجويد): 1. Al-Hadd (الحد): Definisi atau pengertian Ilmu Tajwid. Seca...
-
Di sebuah kota bernama Mekkah, pada tahun yang disebut Tahun Gajah , lahirlah seorang bayi istimewa. Namanya Muhammad bin Abdullah . Ayah...


.jpeg)